Sabtu, 16 Oktober 2010

Ruaya Katsuwonus Pelamis (Cakalang)

Ikan cakalang menyebar luas di seluruh perairan tropis dan subtropis pada samudra Atlantik, samudra Pasifik, dan samudra Hindia. Secara umum, penyebaran yang dilakukan ikan cakalang dinamakan ruaya. Ruaya mempunyai arti enyesuaian dan peyakinan terhadap kondisi yang menguntungkan untuk eksistensi dan reproduksi suatu spesies ikan. Hal tersebut dilakukan dengan cara berpindah tempat. Chusing (1968) dalam Effendie (2002) mebgemukakan bahwa studi ruaya ikan merupakan hal yang fundamental untuk biologi perikanan, karena dengan mengetahui lingkaran ruaya akan diketahui batas-batas daerah mana stok atau sub populasi itu hidup.
Pada umumnya, ruaya ikan dibedakan atas dua macam yaitu amfibiotik dan holobiotik. Amfibiotik berarti suatu jenis ikan melakukan pergerakan dari perairan tawar menuju lautan atau dari air laut menuju perairan tawar. Amfibiotik ini dibedakan atas amfidrom (mencari makan) dan diadrom (memijah). Sementara itu, holobiotik diartikan sebagai pergerakan ikan di perairan tawar atau di lautan saja. Beberapa kalangan mengasumsikan bahwa jenis holobiotik bukanlah suatu ruaya karena seluruh hidup ikan dihabiskan di perairan tawar atau di lautan saja. Akan tetapi, asumsi tersebut dapat dibantah karena sebenarnya holobiotik adalah jenis ikan yang melakukan pergerakan atau beruaya hanya saja perpindahan yang dilakukan tidaklah dari air tawar ke air laut atau sebaliknya, tetapi beruaya dari satu lautan ke lautan lainnya atau dari suatu perairan tawar menuju perairan tawar lain. Dari penjelasan tersebut maka holobiotik dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu potamodrom dan oseanodrom. Potamodrom adaljah jenis ikan yang hidup dan melakukan ruaya di perairan darat, sedsangkan oseanodrom merupakan jenis ikan yang hidup dan melakukan ruaya di lautan (Effendie, 2002).
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ikan cakalang dapat hidup nyaris di semua lautan yang ada di muka bumi ini karena itulah dapat dikatakan bahwa ikan cakalang termasuk jenis oseanodrom (hidup dan beruaya di lautan). Ruaya jenis cakalang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penyebaran secara vertical dan penyebaran secara horizontal. Penyebaran secara vertical berarti penyebaran menurut kedalaman perairan, sedangkan penyebaran horizontal berarti penyebaran berdasarkan letak geografis suatu perairan.
Secara vertical, tujuan utama cakalang mengadakan ruaya adalah untuk melakukan pemijahan. Menurut Gunarso (1996) suhu optimum untuk ikan cakalang  berkisar antara 26-32 C, akan tetapi suhu optimum untuk melakukan pemijahan berkisar pada angka 16-25 C dengan salinitas 33%o. Karena membutuhkan suhu yang relatif rendah untuk melakukan pemijahan maka cakalang akan bergerak secara vertikal ke bawah permukaan air. Hal tersebut dikarenakan semakin dalam suatu perairan semakin rendah suhunya. Selain itu, peruayaan secara vertikal dilakukan cakalang untuk mengamankan telur-telurnya dari ancaman predator. Karena sebagai ikan oseanik, massa telur-telur cakalang lebih tinggi daripada massa air laut sehingga telur-telur tenggelam ke dasar perairan. Pada kedalaman tertentu dimana tersedia banyak pakan dan terhindar dari predator, telur cakalang akan menetas dan menjadi larva cakalang. Cakalang tidak akan melakukan pengasuhan terhadap larva-larvanya karena itu setelah telur menetas cakalang akan kembali ke kolom air. Larva-larva ikan cakalang juga akan melakukan ruaya vertikal ke permukaan  air untuk mencari makan. Namun, larva cakalang hanya melakukan penyebaran vertikal pada malam hari. Karena itulah pergerakan larva cakalaang ini dinamakan nocturnal vertikal (Effendie, 2002).
Penyebaran cakalang secara horizontal memiliki tujuan yang berbeda dengan penyebaran secara vertikal. Ruaya vertikal yang dilakukan oleh cakalang dimaksudkan untuk memijah, sedangkan ruaya secara horizontal dilakukan cakalang untuk mencari makan dan melakukan pengungsian. Cakalang sering membentuk gerombolan untuk melakukan ruaya jarak jauh dengan melawan arus. Karena biasa bergerombol di perairan pelagis hingga kedalaman 200 m maka cakalang dapat pula dikatakan sebagai brakheadrom yaitu ikan yang beruaya di perairan dangkal. Di samudra Hindia secara terus-menerus dan teratur cakalang bergerak mulai dari pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah selatan Pulau Jawa, sebelah barat Sumatra, laut Andaman, menuju kuar Pantai Bombay, di luar pantai Ceylon, sebelah barat Hindia, Teluk Aden, perbatasan samudra Hindia dengan pantai Sobali, pantai timur dan selatan Afrika dimana pergerakannya dilakukan pada bulan April hingga September. Sementara itu, di kawasan Atlantik ikan cakalang bergerak dari laut Barents menuju pantai utara Inggris Raya hingga ke kepulauan Bermuda pada September hingga februari.
Terkadang cakalang beruaya untuk melakukan pengungsian teritama jika perairan yang tengah didiaminya mengalami penurunan kualitas akibat pencemaran atau eksploitasi berlebih (over exploitation) yang dilakukan oleh manusia. Apabila kualitas suatu perairan menurun maka sumber pakan bagi cakalang bahkan bagi senua spesies perairan tersebut akan berkurang pula. Akibatnya tidak banyak individu yang memperoleh makanan sehingga tingkat kematian cakalang di perairan tersebut terbilang tinggi. Atau bahkan pencemaran tersebut dapat langsung mematikan cakalang. Karena itulah untuk meminimalkan tingkat kematian spesiesnya, cakalang akan mengungsi ke tempat yang kualitas perairannya stabil dengan ketersediaan pakan yang tinggi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ruaya Ikan Cakalang
A.Faktor Eksternal; terdiri atas :
1.      Suhu
Fluktuasi suhu dan perubahan geografis merupakan faktor penting yang merangsang dan menentukan keberadaan ikan.  Suhu akan mempengaruhi proses metabolisme, aktifitas gerakan tubuh, dan berfungsi sebagai stimulus saraf. 
2.       Salinitas
Ikan cenderung memilih medium dengan salinitas yang lebih sesuai dengan tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing.  Perubahan salinitas akan merangsang ikan cakalang dan jenis ikan lainnya untuk melakukan migrasi ke tempat yang memiliki salinitas yang sesuai dengan tekanan osmotik tubuhnya.
3.      Intensitas cahaya
Perubahan intensitas cahaya sangat mempengaruhi pola penyebaran ikan, tetapi respon ikan terhadap perubahan intensitas cahaya dipengaruhi oleh jenis ikan, suhu, dan tingkat kekeruhan perairan.  Ikan cakalang  mempunyai kecenderungan membentuk kelompok kecil pada siang hari dan menyebar pada malam hari.
4.      Musim
Musim akan mempengaruhi migrasi vertikal dan horisontal ikan, migrasi diindikasikan dikontrol oleh suhu dan intensitas cahaya.  Ikan pelagis dan ikan demersal mengalami migrasi musiman horisontal, mereka biasanya menuju ke perairan lebih dangkal atau dekat permukaan selama musim panas dan menuju perairan lebih dalam pada musim dingin.
5.      Matahari
Ikan-ikan pelagis, termasuk cakalang, yang bergerak pada lapisan permukaan diindikasikan menggunakan matahari sebagai kompas.
6.      Pencemaran air limbah
Pencemaran air limbah akan mempengaruhi migrasi ikan, penambahan kualitas air limbah dapat menyebabkan perubahan pola migrasi ikan.
B. Faktor internal; Terdiri dari :
1. Kematangan gonad
Kematangan gonad diduga merupakan salah satu pendorong bagi ikan untuk melakukan migrasi. Akan tetapi, ikan cakalang melakukan migrasi sebagai proses untuk pematangan gonad sehingga mampu memijah.
2. Insting
Semua jenis ikan mampu menemukan kembali daerah asal mereka meskipun sebelumnya ikan tersebut menetas dan tumbuh di daerah yang sangat jauh dari tempat asalnya dan belum pernah melewati daerah tersebut. Kemampuan ini diindikasikan merupakan insting yang dimiliki oleh ikan bahkan oleh semua jenis hewan.
3. Aktifitas renang
Aktifitas renang ikan meningkat pada malam hari, kebanyakan ikan bertulang rawan (elasmobranch) dan ikan bertulang keras (teleost) lebih aktif berenang pada malam hari daripada di siang hari.
Pola distribusi, migrasi, daya pulih dan daya adaptasi ikan terhadap perubahan lingkungan merupakan landasan bagi upaya pelestarian sumberdaya ikan.  Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan jumlah beban masukan bahan organik maupun anorganik ke suatu perairan agar tidak melebihi daya adaptasi dan mengganggu siklus hidup suatu jenis ikan (Musida, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
  • Effendie. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama : Yogyakarta
  • Musida. 2009. Faktor-Faktor Ruaya Ikan. Diakses dari http://musida.web.id, pada tanggal 2 Januari 2010 Pukul 11.30 WIB

1 komentar:

zzz mengatakan...

heeemmm

Posting Komentar